Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Thursday, September 14, 2017

Peduli Rohingya, Atas Nama Apa?

Peduli Rohingya, Atas Nama Apa?

Konflik yang terjadi di Rohingya akhir-akhir ini, bermula sejak dulu sahabat! Mung ndilalah Ngepasi (hanya saja kebetulan) bertepatan dengan iklim dunia yang sedang sok Alim. Mengapa saya katakan demikian?, Halah yo mbuh kabeh, Barang Ghoib (cari sendiri artinya).

Konflik di rohingya semakin terdengar riuh bagai badai pasir campur salju karena disangkut pautkan dengan agama, tapi apa benar demikian?. Rohingya adalah sebuah etnis yang mendiami wilayah Rakhine sejak tahun 1430, banyak hal telah terjadi silahkan cari tahu sendiri, karna blog ini bukan blog sejarah. Akhir-akhir ini konflik menuju puncaknya setelah berbagai media membumbuinya dengan perang agama. wah wah

Terus bat, apakah salah kita mengecam aksi pemerintahan Myanmar dan membela etnis rohingya?, Jawabannya "Tentu tidak" Bagus malah, itu artinya sisi kemanusiaanmu, ku, dan semoga saja kita, masih ada. Asal yang kita tahu apa yang kita lakukan, apa yang kita bela, atas dasar apa, dan miapah (demi apa).

Jadi kembali lagi yang harus diingat, ini bukan konflik agama, ini konflik yang menyangkut urusan rumahtangga mereka yang memang harus diselesaikan, hanya saja Kebetulan pemerintahan Myanmar dan kaum mayoritas disana Budha, dan etnis rohingya kebanyakan Muslim, Meski tidak semuanya muslim (perlu diingat). Jadi silahkan kecam mereka atas dasar rasa kepedulian terhadap sesama makhluk Allah, bukan atas dasar agama tetapi justru dibumbui dengan kemurkaan dan kebencian.


Monday, May 1, 2017

Menjadi Manusia Indonesia Seutuhnya


 “Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita”
Sukarno

Bembahasan ini kita mulai dengan pertanyaan, siapakah manusia Indonesia itu? apakah manusia yang lahir atau tinggal di Indonesia? apakah manusia yang selalu berbahasa Indonesia? apakah mereka yang ber-KTP Indonesia?apakah mereka yang selalu berpose hormat ketika merah putih dikibarkan? ataukah mereka yang fasih memnyanyikan lagu Indonesia raya? atau yang hafal pancasila diluar kepala? setidaknya itulah pertanyaan pertanyaan yang muncul ketika wacana seperti judul diatas dikumandangkan.

Apresiasi patut saya berikan kepada steering comitee (SC) Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) 2017 IAIN Pekalongan tulisan ini bukan bermaksud untuk melancangi (baca dulu sampai akhir gan). namun pada tulisan ini saya sedikit ingin menelisik tema tersebut.

Bila ditelaah dari ilmu filologi istilah "Menjadi Manusia Indonesia Seutuhnya" merupakan kompleksitas dari dua kata pokok yaitu Manusia dan Indonesia dan dua kata penunjang yaitu Menjadi dan Seutuhnya. kata menjadi dapat diartikan sebagai "suatu usaha untuk menuju yang diinginkan" sedangkan kata seutuhnya dapat diartikan sebagai pembentukan sesuatu yang "konkret positif", sampai disini kita simpan dulu pengertian dari dua kata penunjang tersebut.

Sekarang tinggal-lah dua kata pokok yaitu manusia dan Indonesia. "Manusia" istilah ini sangat luas dan dapat ditinjau dari berbagai kajian ilmu pengetahuan. singkatnya, Manusia adalah persatuan antara yang Immaterial (Jiwa) dan material (Jasad) yang diberkahi oleh tuhan dengan berbagai fasilitas untuk menunjang kodratnya sebagai khalifah dibumi. "Indonesia" sebuah negara? bangsa? atau kedaulatan?. Idonesia sebagai apapun itu terbentuk bukan serta merta ada, tapi memang nyata ada. jika hendak ditinjau secara historis akan menemukan sebuah dinamika pembentukan Indonesia yang diwarnai dengan berbagai kompleksitas. Jika ditinjau dari segi geografis maka akan menemukan hasil yang berbeda lagi. Disinilah salah satu fungsi kata Penunjang "seutuhnya" yaitu untuk membantu merumuskan makna Indonesia yang berarti Indonesia secara bulat. pemaknaan seutuhnya akan memiliki fungsi lain bila digabungkan dengan tiga kalimat lainnya. Sebuah retorika bahasan yang sangat fleksibel sebagai wacana yang memang patut diangkat menjadi sebuah Tema.

Menjadi Manusia Indonesia Seutuhnya jika hendak dipahami secara keseluruhan setelah kita telisik secara linguistika, akan menghasilkan pengertian "Suatu Usaha untuk menuju hakikat manusia indonesia secara utuh, bulat dan positif. mengapa "suatu usaha untuk menuju?" disinilah bukti kesadaran akan telah pudarnya cita, rasa, karsa dan karya sebagai buah kebudayaan nasionalisme manusia indonesia hari ini. dari tema tersebut akan sangat menarik bila dijadikan sebuah karya tulis, sebagaimana persyaratan untuk ikut berpartisipasi menjadi panitia PBAK salah satunya ialah membuat Essay dengan tema tersebut. semoga pengertian "Suatu Usaha untuk menuju hakikat manusia indonesia secara utuh, bulat dan positif" bisa membantu teman teman yang kesulitan menentukan judul sebagai refrensi, dengan harapan mempermudah teman-teman dalam menemukan turunan dari tema tersebut untuk dibahas.

Rekomendasi dari saya bagi yang ingin berpartisipasi atau sekedar ingin menulis mengenai tema tersebut bisa menggunakan turunan ilmu filsafat diantaranya: meninjau dari segi prikologi manusia indonesia yang diharapkan seperti apa? atau mungkin membahas secara antropologis rancangan hubungan manusia dengan lingkunganya indonesia, atau mungin bisa menggunakan sudutpandang aksiologis, metafisika dan teologis, epistemologis atau mungkin filsafat kebudayaannya, pasti akan menjadi bahasan yang menarik, sekian :D

bagi yang masih bingung gimana cara membuat essai bisa lihat disini

demikian semoga bermanfaat :* :*

Saturday, April 29, 2017

Mahasiswa "Cupu" Rawan HTI



Hizbu Tahrir Indonesia atau lebih dikenal HTI dengan paham Khilaf-ahnya telah mulai melakukan rekruitmen dikalangan akademisi. yah, perguruan tinggi yang harusnya dihuni oleh kalangan akademis intelektualis juga ternyata tak lepas dari jual beli paham atau aliran. mendengar nama khilafah saja sudah dapat dibayangkan betapa konkretnya kejenuhan yang akan terjadi di Indonesia nanti ketika paham ini diterapkan.

Paham khilafah  memang sepertinya wagu(baca: aneh) bagi orang-orang yang berakal dan berfikir. Pahamilah bahwa indonesia dengan kapasitas kebudayaan, bahasa, suku, agama yang tak mengenal batas ini harus dipaksa disatuhan dalam wadah kaku, hitam, dan oh shit! bayangkan saja! mungkin?. tapi juga pahamilah bahwa indonesia dengan kapasitasnya yang tak terbatas ini termasuk juga pemikiran manusianya inilah yang menurut saya menjadikan laris / laku-nya sebuah paham baru masuk di Indonesia, termasuk Mahasiswa-nya yang beragam. dari keberagaman inilah muncul seberapa kategori, saya tak mau repot menjelaskan kategori lainyya disini yang jelas sasaran recruitment HTI dengan panji rasulullahnya adalah "Mahasiswa-mahasiswa cupu". kenapa demikian? 

 "berasal dari kata "culun punya" yang biasanya dipakai untuk orang atau benda yang tidak keren atau tidak gaul...
itu mobil atau bajaj sih, cupu banget..."
singkatan dari Culun Punya, yaitu sinonim dr kata pemula (newbie, beginner) atau masih kecil
ahhh masih cupu loh ! lawan gw aja masih kalah

Search This Blog

Followers